Sekarang ini banyak sekali Calon Bupati / Walikota yang menjanjikan investasi masuk ke daerahnya ketika kampanye. Masalahnya ternyata janji itu hanya isapan jempol semata. Tidak mudah sebenarnya menarik investasi, masalahnya akan timbul dampak – dampak sosial, dari masyarakat agraris ke industrialis, belum lagi menyangkut kerusakan alam yang terjadi krn investasi tersebut.
Banyumas sekarang ini sedang menunggu terealisasinya janji Bupati Marjoko untuk menarik investasi, masa kerja sudah 1 tahun, bukan investasi yang terjadi malah proyek – proyek infrastruktur aja. Masyarakat menunggu pabrik – pabrik yang dijanjikan.
Pemda Banyumas tidak cermat melihat potensi kota Purwokerto yang sudah terkenal sebagai kota Pendidikan. Lihat data saja :
1. Purwokerto adalah kota ketiga di Jateng setelah Semarang dan Solo yang memiliki PTN dan PTS dengan jumlah terbanyak yaitu 21 PT (http://www.evaluasi.or.id/profile-list-univs.php)
2. Jumlah mahasiswa di Unsoed ( PT Terbesar ) adalah 20.852 dan UMP ( PT Terbesar kedua ) adalah 4.950. Dari total dua kampus tersebut didapat jumlah mahasiswanya adalah sekitar 25.000 mhs. Asumsikan 60% adalah mahasiswa dari kabupaten lain maka ada 15.000 mhs.
Dari data diatas maka kita hitung perputaran uang yang terjadi :
1. Perputaran uang yang terjadi adalah di kampus ( SPP, KRS dll), fotocopy , kost-kostan, warung makan.
2. Kalau diasumsikan 1 mhs dlm kabupaten menghabiskan 500.000 perbulan dan luar kabupaten adalah 1.000.000 maka ada uang sebesar (10.000 mhs x 500.000) + (15.000 mhs x 1.000.000) adalah sebesar 20 Milyar Rupiah perbulan atau dalam setahun ada uang 240 Milyar yang berputar hanya di dua kampus tersebut.
Uang itu relatif terbagi rata antara dosen, staf kampus, pemilik kos, pemilik rumah makan, pekerja sektor informal. Apabila masing – masing orang mendapat rata – rata 2.000.000 per bulan maka ada 10.000 orang yang digaji setara dengan pns gol 3a. Jika masing – masing orang menanggung beban 1 istri dan 2 anak, maka ada 40.000 yg bisa hidup dengan keberadaan 2 kampus tersebut.
Selain itu ada side effect dengan adanya kampus yaitu tumbuh kembangnya wirausaha di sekitar kampus,banyak contohnya :
1. Silicon Valley, pusat IT dunia ada disekitar kampus
2. FO yang menjamur dan jadi ikon Bandung adalah hasil kreasi mhs dan tumbuh di sekitar kampus.
Untuk itu maka saya menghimbau Bupati Banyumas dan seluruh jajarannya agar bisa memperhatikan Pendidikan di Banyumas melalui :
1. Bantuan untuk pengembangan kampus sehingga kampus – kampus di Purwokerto bisa lebih meningkat daya saingnya kalau bisa bertingkat internasional sehingga “devisa” yang bisa masuk ke Purwokerto bisa lebih besar lagi.
2. Perda yang mengatur kehidupan di sekitar kampus ( jangan seperti kota2 Pendidikan lainnya yang malah membuat orang tua khawatir menyekolahkan anaknya di kota tersebut ).
3. Menumbuhkembangkan kewirausahaan di lingkungan mahasiswa sehingga tercipta ” Silicon Valley ” ala Banyumas.
Saya sekarang hanya bisa membayangkan dengan 2 kampus saja Purwokerto sudah bisa hidup, maka bagaimana jika 19 kampus yang lain juga bisa maju.
Maju Banyumas…. Cukup via Industrialiasasi Pendidikan