Hari Selasa, 7 Oktober 2008, aku harus pergi dari Thailand dan menuju Myanmar. Pukul 04.30, pak Darmanto, staf KBRI udah mengetuk pintu apartemenku, tapi karena aku baru tidur jam 03.00, aku nggak mendengarnya.
Aku baru bangun pukul 04.50, tanpa mandi, cuma gosok gigi aku segera meluncur ke SIB utk mengambil parabola buat dipasang di IISY, tapi ternyata parabolanya terlalu gede utk masuk mobil Combi, wah mulai dech pusing. Akhirnya setelah dirapatkan dengan sederhana, ya rapat sederhanalah, nggak pake konsumsi dan nggak pake duduk, diputuskan agar parabola dikirim aja via Cargo. Segera aku meluncur ke bandara, karena pesawat akan meluncur pukul 07.50, berarti aku harus ada dibandara pukul 06.50 selambat-lambatnya. Untung lalu lintas belum terlalu padat, akhirnya sampai juga di Bandara pukul 06.40, tanpa basa-basi aku segera check-in.
Dengan dilepas pak Darmanto dan pak Soleh (thanks bro). Aku masuk untuk pengecekan paspor, alhamdulillah lewat dengan aman. Berikutnya masuk ke gate, wah disitu tasku suruh dikeluarkan semua barangnya. Dag..dig…dug… juga nich, krn aku pake laptop dengan OS bajakan, belum lagi modemnya, pasti dapat pertanyaan, tapi ternyata tidak, aku bisa lewat dengan aman.
Akhirnya pesawat yg aku tumpangi meluncur dengan nyaman ke Yangon, selama perjalanan hatiku deg-degan, semakin deg-degan begitu pilot mengumumkan bahwa 5 menit lagi pesawat akan mendarat di Yangon. Aku banyak mendapat cerita yg cukup mengerikan mengenai Myanmar, soal turis Jepang yg dibunuh krn memotret, tentang penumpang yg dipaksa menukarkan uang di bandara dengan nilai tukar yg rendah. Wah, pokoknya sebelum berangkat, kamera dan duit udah aku umpetin, so maaf, khusus cerita ini, tidak ada gambar sama sekali.
Begitu sampai bandara,ternyata bandara Yangon tidak terlalu besar, tapi lumayan bersih dan keluar dari pesawat, langkahku terasa berat, aku menghirup nafas dalam-dalam, jangan -jangan ini nafasku yg terakhir. Laptop dan modem yg kutaruh ditas ranselku terasa berat, jgn2 benda inilah yg bisa membuat aku ditahan di penjara atau bahkan langsung dibunuh, hiii…… Begitu keluar, aku lihat orang-orang dibalik kaca di bandara dengan memakai sarung dan sandal, serta aku sempat terkejut, perempuan pake bedak yg corang coreng, melambai – lambaikan tangan. Itu serasa lambaian tangan perpisahan buatku, walau kalo dipikir-pikir itu lambaian tangan buat kerabatnya yg baru datang dari Thailand. Aku segera meluncur kepemeriksaan paspor, tas ransel kupegang erat – erang.
Aku tengak – tengok, mana nich penjemputku, hmmm, aku punya ide, biasanya orang Indonesia itu pake kumis, nah kulihat ada dua orang, satu pake Jas dan satunya pake dasi, keduanya kumisan, jangan – jangan ini nich pak Rahman dan pak Tarman, dimana aku sering koordinasi dengan beliau. Aku coba lambaikan tangan, tiba – tiba orang yg pake jas menggerakan bibir tanpa suara, dan seperti memanggil namaku. Aku mengangguk. Lumayan tenang nich, udah ada orang yg menjemputku.
Pemeriksaan paspor tidak terlalu lama, setelah itu aku langsung ditarik oleh Pak Rahman, aku melewati scanner tanpa diperiksa krn pak Rahman lgsg menunjukkan kartu KBRI, aku girang bukan main, abis itu semua barangku diambil oleh petugas KBRI, aku segera diantar ke mobil tanpa masalah.
Begitu udah ada didalam mobil, hatiku girang bukan main, ternyata aku tidak mengalami hal – hal yg selalu menghantuiku seminggu ini di Bangkok. Wuih,… terimakasih Tuhan.
Pak, Link nya saya pasang di blog saya…
Kalo berkenan link saya juga dipasang ya Pak….
Terima kasih….
Oleh: MampirNgombe on Desember 15, 2008
at 3:33 pm
keren pak….
jd pengen cr kerjaan di luar negeri…
Oleh: iyof on Desember 16, 2008
at 1:05 am
Mr. Adnan…..
travel around de world??
hmm……masih ingatkah pada anak didikmu yg satu ini??yg suka bandel hehehe….
Oleh: siwi on Januari 19, 2009
at 10:57 am